Saat aku baca tulisan bu Rachel tentang asal usul nama Ringin Sirah , angan ku menerawang ke masa kecil. Karena masa kecil itu kami tinggal di desa Banjaran Gg. 1. Sekolah dasar yang cukup baik dan dekat adalah SD Ringin Sirah, letaknya antara desa Banjaran dengan desa Dandangan pas disamping perempatan sebelah barat-selatan, dan sebelah barat SD tersebut adalah Sekolahan Pawiyatan Dhaha. Kedua duanya sekarang menjadi Plaza.
Oleh orang tua aku disekolahkan disana, serta cerita tentang maling genthiri (maling aguno) sejenis Robin Hood sangat melekat pada kami, bukan sekedar cerita dari mulut kemulut tetapi sampai dengan nasehat dari teman keteman agar jangan main ditanah gundukan yang ada pohon beringinnya karena itu makam kepalanya maling genthiri itu sangat biasa kami dengar.
Saat pikiranku terus bergualat siapakah maling genthiri itu? (maklum sudah lama sekali kisah itu tertumpuk paling bawah dipikiranku karena tidak pernah dipakai dan di-update), sebenernya pikiranku sudah nyangkut kesebuah tokoh tapi namanya lupa, siaaapa ya? eeee…yaaaa… yach!!!…… Mbah BONTJOLONO (Ki BONTJOLONO), sangking antusiasnya aku berteriak ya.!!!. mbah Bontjolono, sehingga membuat bingung istriku, kebetulan saat itu ada disampingku “ada apa sih mas” dia bertanya dengan penuh rasa penasaran, matanya saya tatap, keheranan nampak disana …. aku cuma bisa tersenyum dan sedikit malu. Ku lanjukan lagi pengebaraanku ….. aku seolah kembali ke masa remajaku.
Aku berlari mendaki bukit Maskumambang .. panasnya terik matahari terasa nyata menyengat kulit tubuhku, ... nyata kembali kemasa mudaku ... setiap minggu siang hampir pasti aku lari kesana untuk olah pisik guna mendukung sebuah cabang olah raga yang aku gemari (waktu itu Maskumambang belum dibangun undak-udakan seribu seperti sekarang, untuk mencapai puncaknya harus melewati bebatuan yang besar dan agak terjal)..... sungguh nyata .... terasa nyata, hembusan angin dipuncak Maskumambang menerpa wajahku, kuhirup dalam-dalam segarnya angin puncak Maskumambang ...... kuhirup dalam dan semakin dalam dan......
Sebuah cerita terdengar ulang di telingaku
Dahulu kala, dijaman penjajahan Belanda. Masyarakat Kediri hidup dalam kemiskinan dan ketertindasan. Perkonomian dikuasai oleh Belanda dan diperlakukan pajak yang tidak masuk akal. Hasil buminya selalu dirampas jika tidak mau bayar pajak . Untuk makan saja mereka harus membeli kepada Belanda. Padahal itu hasil jerih payah mereka sendiri. Hal ini menggugah hati Ki Boncolono. Dia marah melihat kelakuan para meneer, ketidak adilan telah mengusik hati Ki Boncolono. Dengan kesaktiannya dibantu oleh Tumenggung Mojoroto dan Tumenggung Poncolono beserta murid-muridnya yang tentu saja sakti-sakti, dia merampok harta para pejabat Belanda. Hasilnya dia bagikan kepada rakyat jelata, Sungguh mulia...... Kontan namanya menjadi harum di kalangan masyarakat....dia ditakuti tapi juga dikagumi dan senantiasa ditunggu tunggu kedatangannya
Belanda merasa geram dan marah. Segala upaya mereka kerahkan untuk meringkus Boncolono. Tetapi usahanya selalu gagal. Setiap terkepung, Boncolono hanya merapatkan diri pada salah satu tiang atau tembok atau pohon dan hilanglah dia. Biarpun ditembak dibunuh diapain juga Ki Boncolono tidak bisa mati, dia bisa hidup lagi ketika tubuhnya menyentuh tanah. Belanda Jengkel dan menggunakan kekuatan "uangnya" untuk meringkus Boncolono. Belanda mengadakan sayembara dengan hadiah yang sangat besar untuk menangkap atau membunuh Ki Boncolono.Beberapa orang yang tahu kelemahan ilmu Boncolono mendatangai Belanda. Mereka memberi tahu pada para meneer itu kalau Boncolono harus dipenggal, kepala dan tubuhnya harus terpisah dan dikuburkan pada tempat yang terpisahkan oleh sungai.
Akhirnya setelah membuat rencana dengan bantuan pendekar pribumi, Belanda melaksanakannya dengan cermat. Dan seperti kisah heroik lainnya, Boncolono tertangkap. dengan bantuan, pendekar Pribumi..... dan....Boncolono tewas. Sebelum dia hidup lagi, tubuhnya dipotong jadi dua. Bagian bawahnya di kubur di bukit Maskumambang. Sedangkan bagian atasnya (kepalanya) di kubur di "Ringin Sirah", desa Banjaran. Kalau bukit Maskumambang terletak di barat sungai Brantas, maka Ringin Sirah terletak di timur sungai Brantas. Dipuncak bukit Maskumambang selain makamnya Ki Boncolono terdapat juga dua buah makam lagi yaitu makamnya Tumenggung Mojoroto dan makamnya Tumenggung Poncolono, tetapi anehnya ketiga makam tersebut ukurannya sangat panjang mungkin lebih dari dua meter, terus aku membayangkan seberapa besar ya orangnya ... atau orang dulu besar-besar?.
Rabu, 13 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

jadi tahu ringinsirah....kita sama2 satu sekolahan pak dan rumah, sy di ringinsirah 1 dan ex rumah ortu banjaran gg 1....jangan2 kita teman sepakbola di gudang kulit :)
BalasHapus