Kamis, 29 Juli 2010

Lima Hal Bodoh Memanfaatkan Uang

JIKA menyangkut masalah finansial, tidak sedikit orang berotak cerdas justru melakukan hal-hal bodoh dengan uang mereka. Padahal untuk mengambil keputusan cerdas soal keuangan, Anda hanya perlu bermain dengan logika.

Menurut Brad Klontz, seorang psikolog finansial, ketika berurusan dengan kecerdasan finansial, ukuran adalah segalanya. Sisi logis dari otak Anda jauh lebih kecil dibandingkan sisi emosional.

Untuk membuat keputusan cerdas tentang uang, Anda memerlukan sisi logis yang mendominasi. Namun, begitu Anda tergoda oleh keserakahan atau rasa takut, maka sisi emosional yang akan mengamuk. Nah, berikut ini adalah di antaranya:

1. Jatuh cinta dengan investasi
Jatuh cinta dengan saham bisa membuat Anda terjerumus ke jurang dalam. Menurut Laura Tarbox, perencana keuangan di Newport Beach, California, tidak sedikit kliennya yang tetap bertahan pada kepemilikan saham mereka yang terkonsentrasi, karena merupakan warisan dari orang tuanya. Atau, mereka enggan menjualnya karena bekerja di perusahaan tersebut, dan merasa tidak loyal jika melepaskannya.

Di dunia investasi, hubungan semacam itu tidak sehat. Tarbox mengungkapkan, seseorang dianjurkan untuk tidak menaruh lebih dari 10 persen kekayaannya terkunci hanya di satu saham.

2. Mengejar fantasi
Kinerja di masa lalu bukan merupakan indikasi hasil di masa yang akan datang. Sebuah penelitian ekstensif terhadap data pasar dalam kurun waktu 19 tahun, menemukan bahwa investor secara konsisten menuangkan uang mereka ke dalam investasi ''panas'', tepat ketika investasi itu mulai ''mendingin.''

Menurut Klontz, kerugian para investor tersebut disebabkan oleh kecenderungan mereka untuk ''berjalan bersama kawanan.'' Jika tidak ingin terinjak-injak kawanan, Anda harus menyusun strategi investasi yang sesuai dengan tujuan Anda dan konsisten menjalankannya.

3. Tergoda barang obral
Suatu hari, Anda sedang berjalan-jalan ke toko elektronik dan melihat dua set televisi berbeda yang dijual seharga Rp 5.000.000,00. Namun, salah satu televisi itu tadinya memiliki harga normal Rp 6.500.000,00. Nah, televisi mana yang akan Anda pilih?

Jika Anda berpikir secara logis, seharusnya Anda memilih televisi yang jelas memiliki review baik. Akan tetapi, menurut Matt Wallaert, seorang konsultan di LendingTree, kebanyakan orang akan memilih televisi yang sedang diobral itu.

Meski pun di hari biasa seseorang tidak mau mengeluarkan uang sejumlah itu untuk satu set televisi, ketika diobral dia merasa harus membelinya karena berpikir harganya lebih murah. Tak jarang, kita dibodohi oleh iming-iming diskon yang membuat kita terlalu mudah menghambur-hamburkan uang, untuk sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar diperlukan.

4. Balas dendam
Anda tidak membutuhkannya. Anda juga tidak menginginkannya. Tapi, tidak ada seorang pun yang bisa melarang Anda untuk memiliki sesuatu jika Anda mau.

Psikolog New York, Bonnie Eaker Weil menyebut hal ini dengan istilah ''pissed-off purchases'' (POP). Weil melakukan sebuah survei sebelum menulis buku terbarunya, 'Financial Infidelity', dan menemukan bahwa pengeluaran akibat POP diperkirakan mencapai US$424 juta setiap tahunnya.

Belanja sebagai bentuk pelampiasan dendam seperti itu, menurut Weil, bisa terjadi ketika Anda merasa marah atau kesal dengan suami, atasan, ayah, ibu, atau bahkan teman sendiri. Akan tetapi, selega apa pun perasaan Anda ketika membelanjakan uang sebagai pelampiasan tersebut, hal itu berdampak buruk terhadap kesehatan finansial Anda.

Selain itu, rasa lega tadi akan dengan cepat berubah menjadi penyesalan begitu Anda tiba di rumah dan melihat benda-benda tak berguna yang harganya merobek kantong.

5. Terlalu memanjakan anak
Tidak sedikit orang tua yang masih menanggung kebutuhan hidup anaknya yang telah dewasa, karena ingin menjadi orang tua yang baik. ''Biasanya hal itu dimulai dengan niat yang baik. Pada dasarnya mereka ingin menjadi orang tua yang baik,'' jelas Klontz.

Beberapa orang tua mungkin tidak tega melihat putra-putri mereka mengalami kesulitan finansial dan membutuhkan bantuan. Namun, akan menjadi tidak baik jika hal tersebut berubah menjadi ketergantungan berkelanjutan. Yang lebih buruk lagi, jika mereka terpaksa mengorbankan simpanan pensiun mereka dan melepaskan impian untuk hidup nyaman karena harus selalu membayar tagihan anak tersebut.

Dalam menghadapi anak yang telah beranjak dewasa, nasihat Klontz, Anda harus memiliki gagasan yang jelas tentang sejauh mana bantuan perlu diberikan, berapa lama, dan apakah bantuan itu bisa membuat anak kembali berdikari. Jika tidak ada rencana jelas, itu sama saja seperti terus memberikan mereka ikan, bukannya pancing.

Senin, 15 Februari 2010

Letakkanlah bawang merah di meja.

BAWANG MERAH
Pada tahun 1919 ketika flu membunuh 40 juta orang, ada seorang dokter yang mengunjungi banyak petani untuk melihat apakah ia dapat membantu mereka memerangi flu. Banyak petani dan keluarga mereka telah tertular dan banyak yang meninggal. Dokter ini mengunjungi satu keluarga petani, dan yang mengejutkannya, ternyata semua orang sangat sehat. Ketika dokter bertanya apa yang dilakukan petani yang membuatnya berbeda, sang istri menjawab bahwa ia telah menaruh bawang merah yang telah dikupas dalam sebuah piring pada setiap kamar di rumah itu, (mungkin hanya dua kamar waktu itu).

Dokter itu tidak percaya dan bertanya apakah ia dapat memiliki salah satu dari bawang merah itu untuk melihatnya di bawah mikroskop. Istri petani itu memberinya satu dan ketika dia melakukan hal ini, ia menemukan virus flu di bawang merah itu. Bawang merah ini jelas menyerap bakteri, oleh karena itu, menjaga keluarga ini tetap sehat.

Rabu, 13 Januari 2010

KI BONCOLONO

Saat aku baca tulisan bu Rachel tentang asal usul nama Ringin Sirah , angan ku menerawang ke masa kecil. Karena masa kecil itu kami tinggal di desa Banjaran Gg. 1. Sekolah dasar yang cukup baik dan dekat adalah SD Ringin Sirah, letaknya antara desa Banjaran dengan desa Dandangan pas disamping perempatan sebelah barat-selatan, dan sebelah barat SD tersebut adalah Sekolahan Pawiyatan Dhaha. Kedua duanya sekarang menjadi Plaza.
Oleh orang tua aku disekolahkan disana, serta cerita tentang maling genthiri (maling aguno) sejenis Robin Hood sangat melekat pada kami, bukan sekedar cerita dari mulut kemulut tetapi sampai dengan nasehat dari teman keteman agar jangan main ditanah gundukan yang ada pohon beringinnya karena itu makam kepalanya maling genthiri itu sangat biasa kami dengar.

Saat pikiranku terus bergualat siapakah maling genthiri itu? (maklum sudah lama sekali kisah itu tertumpuk paling bawah dipikiranku karena tidak pernah dipakai dan di-update), sebenernya pikiranku sudah nyangkut kesebuah tokoh tapi namanya lupa, siaaapa ya? eeee…yaaaa… yach!!!…… Mbah BONTJOLONO (Ki BONTJOLONO), sangking antusiasnya aku berteriak ya.!!!. mbah Bontjolono, sehingga membuat bingung istriku, kebetulan saat itu ada disampingku “ada apa sih mas” dia bertanya dengan penuh rasa penasaran, matanya saya tatap, keheranan nampak disana …. aku cuma bisa tersenyum dan sedikit malu. Ku lanjukan lagi pengebaraanku ….. aku seolah kembali ke masa remajaku.
Aku berlari mendaki bukit Maskumambang .. panasnya terik matahari terasa nyata menyengat kulit tubuhku, ... nyata kembali kemasa mudaku ... setiap minggu siang hampir pasti aku lari kesana untuk olah pisik guna mendukung sebuah cabang olah raga yang aku gemari (waktu itu Maskumambang belum dibangun undak-udakan seribu seperti sekarang, untuk mencapai puncaknya harus melewati bebatuan yang besar dan agak terjal)..... sungguh nyata .... terasa nyata, hembusan angin dipuncak Maskumambang menerpa wajahku, kuhirup dalam-dalam segarnya angin puncak Maskumambang ...... kuhirup dalam dan semakin dalam dan......
Sebuah cerita terdengar ulang di telingaku
Dahulu kala, dijaman penjajahan Belanda. Masyarakat Kediri hidup dalam kemiskinan dan ketertindasan. Perkonomian dikuasai oleh Belanda dan diperlakukan pajak yang tidak masuk akal. Hasil buminya selalu dirampas jika tidak mau bayar pajak . Untuk makan saja mereka harus membeli kepada Belanda. Padahal itu hasil jerih payah mereka sendiri. Hal ini menggugah hati Ki Boncolono. Dia marah melihat kelakuan para meneer, ketidak adilan telah mengusik hati Ki Boncolono. Dengan kesaktiannya dibantu oleh Tumenggung Mojoroto dan Tumenggung Poncolono beserta murid-muridnya yang tentu saja sakti-sakti, dia merampok harta para pejabat Belanda. Hasilnya dia bagikan kepada rakyat jelata, Sungguh mulia...... Kontan namanya menjadi harum di kalangan masyarakat....dia ditakuti tapi juga dikagumi dan senantiasa ditunggu tunggu kedatangannya
Belanda merasa geram dan marah. Segala upaya mereka kerahkan untuk meringkus Boncolono. Tetapi usahanya selalu gagal. Setiap terkepung, Boncolono hanya merapatkan diri pada salah satu tiang atau tembok atau pohon dan hilanglah dia. Biarpun ditembak dibunuh diapain juga Ki Boncolono tidak bisa mati, dia bisa hidup lagi ketika tubuhnya menyentuh tanah. Belanda Jengkel dan menggunakan kekuatan "uangnya" untuk meringkus Boncolono. Belanda mengadakan sayembara dengan hadiah yang sangat besar untuk menangkap atau membunuh Ki Boncolono.Beberapa orang yang tahu kelemahan ilmu Boncolono mendatangai Belanda. Mereka memberi tahu pada para meneer itu kalau Boncolono harus dipenggal, kepala dan tubuhnya harus terpisah dan dikuburkan pada tempat yang terpisahkan oleh sungai.
Akhirnya setelah membuat rencana dengan bantuan pendekar pribumi, Belanda melaksanakannya dengan cermat. Dan seperti kisah heroik lainnya, Boncolono tertangkap. dengan bantuan, pendekar Pribumi..... dan....Boncolono tewas. Sebelum dia hidup lagi, tubuhnya dipotong jadi dua. Bagian bawahnya di kubur di bukit Maskumambang. Sedangkan bagian atasnya (kepalanya) di kubur di "Ringin Sirah", desa Banjaran. Kalau bukit Maskumambang terletak di barat sungai Brantas, maka Ringin Sirah terletak di timur sungai Brantas. Dipuncak bukit Maskumambang selain makamnya Ki Boncolono terdapat juga dua buah makam lagi yaitu makamnya Tumenggung Mojoroto dan makamnya Tumenggung Poncolono, tetapi anehnya ketiga makam tersebut ukurannya sangat panjang mungkin lebih dari dua meter, terus aku membayangkan seberapa besar ya orangnya ... atau orang dulu besar-besar?.

Minggu, 10 Januari 2010

Pengetahuanku Tentang Kediri kota kelahiranku

Asal Mula Kediri

Kadiri (Kediri) berasal dari kata "diri" yang berarti "adeg" (berdiri) yang mendapat awalan "Ka" yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti "Menjadi Raja".Kediri juga dapat berarti mandiri atau berdiri tegak, berkepribadian atau bersuwasembada.
Menurut Drs. Soepomo Poejo Soedarmo, dalam kamus Melayu, kata "Kediri" dan "Kendiri" sering menggantikan kata sendiri.Perubahan pengucapan "Kadiri" menjadi "Kediri" menurut Drs. Soepomo paling tidak ada dua gejala. Yang pertama, gejala usia tua dan gejala informalisasi. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan dalam rumpun bahasa Austronesia sebelah barat, dimana perubahan seperti tadi sering terjadi
Kediri berasal dari kata "DIRI" yang berarti Adeg, Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Untuk itu dapat kita baca pada prasasti "WANUA" tahun 830 saka, yang diantaranya berbunyi : " Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban", artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban. Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno seperti : Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang. Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti : Prasasti Ceber, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Dalam prasasti ini menyebutkan, karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, "Tanah Perdikan".Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bumi Kadiri.Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka, tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194.Pada prasasti itu juga menyebutkan nama, Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur."Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo", sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang ("tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri").Menurut bapak MM. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa "hari jadi Kediri" muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun pendapat beliau, nama Kadiri yang paling tepat dimuculkan pada ketiga prasasti. Alasannya Prasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi, dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi.Dilihat dari ketiga tanggal tersebut menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M. Tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing.
Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang (MJP2944)

Selasa, 27 Oktober 2009

Teryata Manusia Dibatasi Oleh Tiga Hal

Pengetahuan di otak yang memotivasi tindakan-tindakan manusia.
Dan tindakan tindakan itu mengasilkan kebiasaan.
Dan kebiasaan-kebiasan tersebut membuahkan karakter dalam hidup manusia.
Jadi pengetahuan apa yang manusia masukan kedalam otaknya itulah yang menjadikan prinsif-prinsip dilam hidupnya dari prinsip inilah timbul tindakan-tindakan sebagai embrio sebuah karakter.
Cotoh: ada pengetahuan yang dimasukan kedalam otaknya seperti ini "laki-laki tabu untuk menangis ..katanya itu bukan pria sejati" maka pribadi tersebut tabu untuk menangis .... bukankah menangis itu sifat yang alamiah ... apa hubungannya pria sejati dengan tidak mengis .....bagi saya itu hal yang lucu sekali ....dan banyak lagi yang lain seperti itu
jadi jika ingin hidup ini berarti alias tidak konyol isilah otak kita atau anakmu dengan kebenaran yang datangnya dari sang Khalik.

Jumat, 16 Oktober 2009

Jumlah Orang MEINGGAL karena MEROKOK lebih besar dibandingkan korban NUKLIR

Jika kita berasumsi secara bebas dengan sebuah pertanyaan; jumlah korban mana yang paling banyak diantara jumlah orang yang meninggal karena radiasi nuklir dengan orang yang meninggal karena merokok?. Seandainya anda pakar kesehatan, tentu anda akan menjawab secara meyakinkan bahwa orang yang meninggal karena merokok, lebih banyak jumlahnya. Dan itu fakta. Tetapi dikarenakan media-media informasi seperti TV, surat kabar, ataupun internet, lebih banyak menyuguhkan negatifnya nuklir, sehingga sering mempengaruhi opini publik.

Anda bayangkan saja, jika anda disuguhkan suatu berita tentang peristiwa Hiroshima dan Nagasaki ataupun peristiwa Tragedi Chernobyl yang merengut nyawa ribuan orang sekaligus. Tentu anda akan menyatakan nuklir sangat berbahaya dan berasumsi jumlah korban nukilr lebih banyak karena korbannya secara massal. Hal ini jauh berbeda dengan korban merokok, tentu kita tidak pernah mendengar adanya korban massal akibat keracunan asap rokok. Yang ada korban akibat merokok berjatuhan disekitar kita, yang terkadang tidak kita sadari. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diperkirakan 4,9 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya. Umumnya vonis akhir secara kesehatan bagi korban merokok ini adalah karena mengidap penyakit kanker.

Deskripsi diatas adalah salah satu contoh bahwa radiasi alam lebih berbahaya dari radiasi nuklir? kok bisa? Sebenarnya tanpa disadari oleh para perokok, bahwa selama mereka merokok, mereka telah terpapar radiasi salah satu gas radioaktif alam yaitu gas radon yang terdapat dalam daun tembakau. Radioaktif alam ini berasal dari pupuk fospat (P) yang dipupukkan pada daun tembakau sehingga gas radon terakumulasi di dalam tembakau. Sehingga perokok akan mudah terkena kanker paru-paru karena radiasi dari gas radon tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru.

Kapan saudaraku-saudaraku berhenti merokok ? inilah waktunya .... Aku telah berhenti merokok dan anda semua pasti bisa!!!

Kamis, 01 Oktober 2009

Jadinya Aku Ketawa

Peristiwa ini kira-kira delapan tahun yang lalu ... waktu itu anak ku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Setiap hari aku antar jemput dia, karena jemputan anak sekolah disini terasa mahal ...atau aku yang terlalu sayang ama anakku ... he..he..he... Biasanya aku ambil jalan pintas , sesungguhnya itu bukan jalan umum, tetapi jalur pipa PDAM, jalannya cuma dari tanah merah, tetapi cukup rata dan kalau musim kemarau sungguh sangat berdebu, tanah merah yang lembut itu mudah sekali terbang dan berhamburan tatkala ada kendaran yang melintas.

Pagi yang cerah ...
seperti biasa aku antar anakku berangkat sekolah,
ke arah matahari yang sedang merekah
Vespa yang setia dengan penuh suka cita melangkah
menelusuri jalan tanah ....

mataku menelisik jauh kedepan
Kulihat debu-debu tanah menari berdekapan
bergulung-gulung seperti sebuah ledakan
karena ... motor yang dikemudikan seperti dikejar setan
Sungguh ... sungguh ..... ini sungguh keterlaluan...

Benak ku mulai berbicara, berpicara penuh dengan kejengkelan
Hatiku berbicara ... berbicara hanya didalam ..
Tidakkah kau sadari anak muda...perbuatanmu sungguh banyak merugikan
Bukankah dengan berkendaraan pelan ... kamu tidak membangkitkan debu sehingga dia tetap diam ..
mengapa ....mengapa ini kau lakukan.

Nak ... kita akan melawati hamburan debu seperti kawanan domba berbulu merah
Kalau kita mulai masuk tutup hidungmu dengan krah

Mataku tajam menatap pemuda itu
tanganku menunjuk ke depan ... menunjuk debu yang ia tinggalkan
Vespa ku semakan pelan aku kemudikan .. dan semakin tajam kutatap wajahnya yang semakin mendekat
Terus kutatap dia, sampai aku menoleh kebelakang mengikuti geraknya .....
Betapa aku terkejut ... melihat hamburan debu yang aku tinggalkan lebih parah dari pada anak muda itu
aku baru sadar walaupun aku jalanku pelan, tetapi knalpotku mengarah kebawah dan meniup debu ...
Trus didalam hatiku yang paling dalam ada suara yang lembut dan penuh kesejukan berkata...
"Oleh sebab itu jangan terlalu melihat apa yang diakibatkan orang lain ..kamu akan merespon yang kurang tepat ...tapi lihatlah apa yang kamu timbulkan ..kamu akan berubah dan mendapat hikmat"

Jadinya Aku Ketawa ............

Jangan hidup berdasarkan pada asumsi, karena asumsi bukanlah sebuah kebenaran
Janganlah puas hidupmu berdasarkan kebenaran, karena itu cuma berhenti pada pengetahuan
Tetapi hidupilah kebenaran itu dalam kehidupanmu itulah hidup dalam hikmat Allah.

Marhaeni Djokopuspito 070865016 Mas Koko